artikel lengkap |
 
   
 
Masuk Halaman Artikel Agribisnis
Artikel & Opini Universitas Bangka Belitung

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka


Berdasar undangan dariseorang teman, tim eksplorasi terumbu karang UBB ahirnya mengunjungi dan mengeksplorasi perairan Tuing pada Tanggal 9 September 2011 dan 20 April 2012. Tuing adalah dusun terpencil dan jarang dikenal oleh masyarakat Bangka. Dusun ini terletak di kecamatan Riau Silip Kabupaten Bangka. Sebenarnya Tanjung Tuing terlihat dari Pantai Matras Sungailiat sebelah utara. Tampak bukit terjauh yang terlihat berbatasan langsung dengan pantai itulah sebenarnya tanjung Tuing. Perairan Tuing menurut penulis merupakan benteng terakhir dari sumberdaya perikanan laut di Kabupaten Bangka. Bagaimana tidak, hampir semua laut dari 0 4 mil laut sebagian besar telah diberikan izin usaha pertambangan (IUP) laut oleh kepala daerah kabupaten ini untuk operasi kapal isap produksi. Tak heran karena memang kabupaten Bangka salahsatu kabupaten dengan IUP terbanyak setelah Kabupaten Bangka Barat.

Akses menuju Dusun Tuing dari Kota Pangkalpinang sekitar 2,5 jam. Sebenarnya jarak dusun ini dari Kota Sungailiat hanya sekitar 70 km, namun karena medan jalan menuju daerah ini kurang baik karena aspal banyak yang rusak akibat beban dari truk sawit yang melewati jalan menuju dusun ini setiap harinya. Jalan aspal berlobang-lobang ini pun hanya setengah dari perjalanan saja karena setelah itu jalan merah tanah puru. Karenanya, jika musim kemarau maka jalan akan sangat berdebu sebaliknya pada musim hujan jalan akan menjadi becek. Sepanjang jalan kita dapat melihat sisa-sisa pertambangan timah skala besar yang pernah dan sedang dilakukan. Ada pula perumahan-perumahan baru pekerja TI yang sebagian besar berasal dari tanah jawa. Selain itu terdapat sisa-sisa penambangan pasir kuarsa bahkan pabrik yang terdapat dipinggir pantai masih teronggok manjadi bukti sejarah kejayaan penambangan pasir kuarsa kala itu.

Memasuki Dusun Tuing kita akan disambut dengan pemandangan bukit yang menghijau. Bukit ini memang merupakan bagian dari kawasan hutan lindung. Sayangnya, dibagian pantai tampak bukit yang sebagian botak ditanami oleh kelapa sawit oleh masyarakat. Meskipun cukup terpencil, tak masuk listrik dan jarang mendapat perhatian, sebenarnya dusun ini telah memiliki sekolah dasar dan ada sekitar 50 kk di dusun ini. Sebagian besar mata pencaharian penduduk Tuing adalah nelayan.

Nelayan Tuing adalah nelayan tradisional dengan perahu kecil dan penangkapan tak lebih dari sehari (one day fishing). Pasokan utama cumi Bangka di Kabupaten Bangka sebagian besar berasal dari hasil tangkapan di perairan derah ini. Saat malam tiba, tampak perahu-perahu nelayan berjejer menangkap cumi dan ikan. Tampak ternyata banyak pula perahu-perahu berukuran besar yang tentunya bukan milik nelayan Tuing melainkan dari daerah Desa Nelayan Sungailiat yang sebagian besar adalah nelayan bugis dan buton. Menurut pengakuan nelayan Tuing, banyak nelayan dari Desa Nelayan Sungailiat yang menangkap ikan dan cumi di daerah mereka. Diduga hal ini karena daerah tangkapan disekitar Desa Nelayan sudah banyak yang rusak akibat penambangan timah lepas pantai oleh kapal isap dan TI Apung yang banyak beroperasi disekitar desa tersebut. Masyarakat Bangka pasti sudah tak heran karena memang dikawasan perairan Air Kantung dan sekitarnya hingga Pantai Rebo banyak beroperasi kapal isap dan TI Apung. Karena kerusakan akibat sedimentasi penambangan ini tentu saja ikan menjadi menjauh sehingga nelayan yang masih tersisa di Desa Nelayan Sungailiat (karena sebagian besar telah beralih mejadi penambang timah laut) menangkap ikan ke daerah lain yang dipandang lebih potensial seperti perairan Tuing. Sayangnya, kompensasi dari penambangan timah laut yang selama ini sering digembor-gemborkan tentu saja tak sampai kepada nelayan dusun Tuing. Namun, nelayan dusun ini merasakan langsung dampak dari banyaknya armada tangkap dari Desa Nelayan Sungailiat yang menangkap ikan di perairan mereka. Sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh pengusaha kapal isap apalagi jika orientasinya adalah keuntungan semata.

Potensi dan Ancaman


Penangkapan cumi di perairan Tuing dilakukan sepanjang tahun namun tangkapan biasanya banyak di saat bulan gelap. Selain cumi, hasil tangkapan lain yang cukup terkenal adalah udang putih (Banana sp), kepiting rajungan (Portunus sp) dan berbagai jenis ikan terutama ikan kerisi. Udang putih biasanya ditangkap dua kali setiap tahun yaitu antara musim barat hingga awal tenggara dan setelah musim utara. Kepiting rajungan pada musim tenggara. Untuk ikan kerisi ditangkap sepanjang tahun sama seperti cumi.

Kayanya sumberdaya perikanan di perairan Tuing karena kondisi ekosistem laut di kawasan ini yang masih alami. Kondisi ekosistem terumbu karang dan mangrove masih sangat alami jauh dari pencemaran sedimentasi pertambangan seperti daerah lain di Pulau Bangka. Tak heran jika akhirnya banyak nelayan-nelayan dari berbagai daerah yang menagkap ikan ke perairan Tuing. Selain memiliki kondisi ekosistem pesisir yang alami, Dusun Tuing pun memiliki pantai yang sangat indah dengan pasir putih dan bebatuan granit muda. Pemandangan hutan lindung yang masih alami dan berbukit menjadikan pantai pelabuh dalem sangat indah. Adanya terumbu karang tepi yang dapat dicapai dengan snorkeling dari tepi pantai membuat pantai ini sangat layak unutk dijadikan tujuan baru destinasi wisata bahari karena menawarkan keindahan bawah laut yang kaya dengan karang yang beraneka warna dan kaya dengan berbagai jenis ikan karang.

Berlimpahnya potensi perikanan juga diikuti oleh semakin banyaknya jumlah armada tangkap yang menangkap ikan di perairan Tuing. Tak hanya nelayan dari dusun ini yang tergolong sebagai nelayan kecil dengan alat tangkap yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan nelayan bugis dan buton dari Desa Nelayan Sungailiat. Selain itu, banyak pula nelayan dari daerah lain yang menangkap dengan alat tangkap dan muatan kapal yang jauh lebih besar. Kabar terakhir yang penulis dapat dari nelayan Tuing menyatakan bahwa nelayan dari Jakarta dengan perahu yang sangat besar dengan menggunakan lampu yang sangat terang dan alat tangkap yang jauh lebih maju telah menangkap cumi di malam hari di perairan Tuing hingga sembilan perahu besar. Laut yang merupakan milik bersama (common community) dan bersifat terbuka (open acces) tentu akhirnya tanpa pengaturan dan pengawasan yang baik akan terjadi kecenderungan eksploitasi berlebihan tanpa memperdulikan keberlanjutan dan nasib nelayan Tuing yang masih tradisional.

Izin pertambangan laut yang begitu marak terjadi di Kabupaten Bangka pun menjadi kekhawatiran nelayan Tuing sebagaimana yang menimpa nelayan-nelayan daerah lain yang telah merasakan langsung kerugian dari kebijakan itu. Mulai dari konflik horizontal antara nelayan hingga rusaknya ekosistem laut sehingga nelayan harus menangkap ikan ke lokasi yang lebih jauh dengan hasil tangkapan pun yang semakin menurun dan jenis ikan tangkapan yang semakin sedikit. Dampak turunannya sudah dapat diprediksi dengan mahalnya harga ikan di pasaran sehingga masyarakat banyaklah yang akhirnya dirugikan karena meningkatnya harga tersebut.

Rekomendasi Sebagai Kawasan Lindung Laut Daerah


Melihat potensi yang besar dari perairan Tuing sebenarnya sudah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi pemerintah daerah yang telah diamanahkan untuk mengelola sumberdaya alam di daerah ini dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya untuk melindungi dan menjaga agar kawasan Tuing tetap lestari dan dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat sebagai penghasil bahan pangan laut bergizi tinggi dengan menjadikan kawasan ini sebagai kawasan lindung laut daerah (KKLD). Penulis yakin dengan model pengembangan KKLD berbasis masyarakat dimana pemda hanya menjadi penggerak dan pengawas dalam kegiatan KKLD tak akan banyak menghabiskan anggaran pemda Kabupaten Bangka. Dengan mempercayakan nelayan untuk melindungi sendiri lingkungan mereka dan sedikit pembekalan dan pelatihan, penulis yakin nelayan akan lebih peduli dengan lingkungan laut dikawasan mereka dan mendapatkan apresiasi yang sangat berharga dari pemerintahnya. Pertanyaannya sekarang, siapa yang mau peduli dan memulai ini? Kita nantikan saja kinerja yang sebaik-baiknya dari rekan-rekan di Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dan DPRD Kabupaten Bangka. Semoga ada itikad baik untuk menajaga dan melestarikan potensi sumberdaya di perairan ini.





Kondisi jalan menuju tuing yang belum di aspal



Perairan tuing yang dihiasi pemandangan perbukitan yang masih alami menghijau



Perairan tuing yang dihiasi pemandangan perbukitan yang masih alami menghijau



Perahu-perahu nelayan dari Desa Nelayan Sungailiat yang banyak menangkap ikan di perairan Tuing



Ekosistem karang tepi yang terdapat di perairan tuing yang masih alami menjadikan kawasan wisata bahari masadepan yang potensial untuk dikembangkan



Ekosistem karang tepi yang terdapat di perairan tuing yang masih alami menjadikan kawasan wisata bahari masadepan yang potensial untuk dikembangkan



Ekosistem karang tepi yang terdapat di perairan tuing yang masih alami menjadikan kawasan wisata bahari masadepan yang potensial untuk dikembangkan



Pantai pelabuh dalem perairan tuing yang berpasir putih dengan pemandangan alam yang indah



Pantai pelabuh dalem perairan tuing yang berpasir putih dengan pemandangan alam yang indah


Klik untuk melihat foto-foto ekspedisi terumbu karang Tuing selengkapnya



Ketua tim : Indra Ambalika, S.Pi
Anggota : Khoirul Muslih, S.Pi dan Robani Juhar, S.Pi, M.Si





Dikirim oleh Indra Ambalika
Tanggal 2012-09-03
Jam 08:54:32



Baca Artikel Lainnya :


Baca Berita :
 
 
       

 

 

 

 

 

 

Kembali ke Homepage Website Program Studi Agribisnis FPPB Universitas Bangka Belitung Homepage Agribisnis
Masuk Halaman Artikel Agribisnis
Masuk Halaman Berita Agribisnis